Penulis
Assoc. Prof. Dr. dr. Jekson Martiar Siahaan, M.Biomed., AIFO-K
Assoc. Prof. Dr. dr. Endy Juli Anto, MKT
dr. Meldawati, AIFM., M.Biomed, AIFO-K
dr. Erwin Handoko, M.Ed., Ph.D
Dr. dr. Mutiara, MHA, MKT
dr. Theresia Anggriani H, M.Biomed
dr. Enie, MKT
dr. Stephanie Jesslyn, M.Biomed
dr. Muhammad Abdi Riyantono, MKM
Editor
Seriga Banjarnahor, Ph.D
Kategori
Buku Referensi
ISBN
Dalam proses
e-ISBN
Dalam Proses
Ukuran
15,5 x 23 cm
Halaman
viii + 349 hlm
Tahun Terbit
Agustus 2026
Harga
Rp 225.000,-
Sinopsis
Pendidikan kedokteran berada dalam lingkungan yang terus berubah. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi kesehatan, perubahan kebutuhan masyarakat, serta meningkatnya tuntutan terhadap keselamatan pasien menuntut sistem pendidikan dokter untuk terus beradaptasi. Dalam kondisi tersebut, pembelajaran tidak cukup hanya menghasilkan mahasiswa yang mampu mengingat informasi, tetapi perlu membentuk individu yang mampu berpikir kritis, mengambil keputusan, berkomunikasi, bekerja secara kolaboratif, dan mempertanggungjawabkan setiap tindakan profesional.
Buku ini berangkat dari pemikiran bahwa terdapat perjalanan panjang antara proses pembelajaran dan terbentuknya praktik profesional. Pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran perlu diolah menjadi pemahaman, diterapkan melalui pengalaman, diuji melalui asesmen, dan dikembangkan menjadi kompetensi. Kompetensi tersebut selanjutnya perlu diwujudkan dalam perilaku profesional yang konsisten sehingga kepercayaan pasien, masyarakat, dan sesama profesi dapat dibangun secara berkelanjutan.
Pendekatan berbasis bukti menjadi landasan penting dalam pembahasan buku ini. Setiap keputusan mengenaipembelajaran, kurikulum, asesmen, supervisi, dan pengembangan kompetensi idealnya tidak hanya didasarkan pada kebiasaan atau pengalaman personal, tetapi juga mempertimbangkan bukti ilmiah yang tersedia. Namun, bukti ilmiah perlu dibaca secara kritis dengan memperhatikan kualitas metodologi, konteks penelitian, keterbatasan, serta relevansinya terhadap kebutuhan pendidikan kedokteran.
Pembahasan dalam buku ini mencakup berbagai aspek yang saling berkaitan dalam pendidikan kedokteran. Mulai dari mekanisme belajar, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, pembelajaran aktif, penalaran klinis, asesmen, umpan balik, profesionalisme, komunikasi, kesejahteraan mahasiswa dan tenaga pendidik, hingga perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial. Keseluruhan topik tersebut ditempatkan dalam satu kerangka yang menghubungkan pengalaman belajar dengan performa profesional.
Buku ini juga memberikan perhatian pada pentingnya lingkungan pendidikan dalam membentuk kompetensi. Pembelajaran tidak berlangsung hanya di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi dengan dosen, pembimbing klinis, pasien, tenaga kesehatan lain, serta budaya institusi. Lingkungan yang mendukung pembelajaran, memberikan umpan balik yang bermakna, dan menjunjung tinggi nilai profesional akan membantu mahasiswa berkembang menjadi calon dokter yang kompeten dan dapat dipercaya.
Selain membahas keberhasilan pendidikan, buku ini berusaha menghadirkan pandangan yang kritis terhadap berbagai keterbatasan dalam penerapan suatu pendekatan. Tidak semua metode pembelajaran menghasilkan dampak yang sama pada setiap konteks. Oleh karena itu, perbedaan hasil penelitian, keterbatasan bukti, serta kemungkinan adanya faktor kontekstual perlu dipahami sebagai bagian dari proses pengembangan ilmu pendidikan kedokteran.
Perubahan teknologi digital dan kecerdasan artifisial juga menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru. Teknologi dapat memperluas akses terhadap sumber belajar, membantu proses asesmen, mendukung simulasi, serta membuka kemungkinan baru dalam pelayanan kesehatan. Namun, penggunaan teknologi tetap membutuhkan pertimbangan etis, kemampuan berpikir kritis, literasi digital, perlindungan data, dan pemahaman bahwa teknologi merupakan alat pendukung, bukan pengganti tanggung jawab profesional dokter. Dalam konteks Indonesia, transformasi pendidikan kedokteran perlu mempertimbangkan karakteristik sistem pendidikan, kebutuhan pelayanan kesehatan, keragaman masyarakat, ketersediaan sumber daya, serta perkembangan institusi pendidikan kedokteran. Bukti dari berbagai negara dapat menjadi sumber pembelajaran yang berharga, tetapi penerapannya perlu disesuaikan dengan konteks lokal agar inovasi yang dikembangkan benar-benar relevan dan memberikan manfaat.