SIDIK JARI LINGUISTIK Integrasi Linguistik Forensik, Wu Xing, dan Kearifan Lokal dalam Profiling Karakter

Penulis
Dr. Agus Mulyanto, M.Pd
Prof. Dr. Cecep W. Hoerudin, M.Pd

Kategori
Buku Referensi

ISBN
Dalam proses

e-ISBN
Dalam Proses

Ukuran
14 x 20 cm

Halaman
viii + 215 hlm

Tahun Terbit
Mei 2026

Harga
Rp 135.000,-

Sinopsis
Selama ini, linguistik forensik lebih banyak berkembang melalui pendekatan empiris dan kuantitatif yang berakar pada tradisi Barat. Pendekatan tersebut telah memberikan kontribusi besar dalam analisis kepenulisan, identifikasi penutur, serta pengungkapan berbagai kasus hukum berbasis bahasa. Namun, manusia tidak hanya dibentuk oleh struktur bahasa semata. Di balik setiap kata terdapat emosi, pengalaman hidup, budaya, intuisi, dan nilai-nilai yang membentuk karakter seseorang.

Buku ini mencoba menghadirkan sintesis yang lebih utuh dengan memadukan linguistik forensik modern, filosofi Wu Xing dari tradisi Timur, serta kearifan lokal Nusantara seperti Kejawen dan Sunda Wiwitan. Melalui pendekatan ini, bahasa dipahami bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cermin jiwa, identitas, dan dinamika sosial manusia.

Untuk memahami konsep idiolek sebagai “sidik jari linguistik”, kita perlu terlebih dahulu menelusuri landasan ilmiah dari analogi sidik jari biologis itu sendiri, karena metafora ini bukan sekadar kiasan puitis, melainkan memiliki basis epistemologis yang kuat dalam ilmu forensik. Sidik jari biologis, atau dermatoglyphics, merupakan pola garis-garis epidermal yang terbentuk pada ujung jari manusia selama masa perkembangan embriologis, tepatnya antara minggu ke-10 hingga ke-24 kehamilan. Keunikan sidik jari setiap individu—bahkan pada kembar identik yang memiliki DNA sama—dijelaskan oleh prinsip chaos theory dalam biologi perkembangan, di mana fluktuasi mikro dalam lingkungan rahim seperti tekanan cairan amnion, posisi janin, dan suplai nutrisi menciptakan variasi acak yang tidak dapat direplikasi secara identik

Pembahasan dalam buku ini disusun secara bertahap, mulai dari fondasi ilmiah mengenai idiolek dan stilometrika, pengenalan dimensi karakter berbasis unsur alam, hingga metodologi hybrid yang mengintegrasikan data empiris dengan pembacaan kontekstual dan intuitif. Dengan demikian, pembaca diharapkan memperoleh perspektif yang lebih luas dalam memahami praktik profiling linguistik secara akademis maupun aplikatif.

Skills

Posted on

May 18, 2026

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *