SENTUHAN Sebagai BAHASA (Perspektif Linguistik, Neurosains, dan Implikasinya dalam Pembelajaran)

Penulis
Dr. Agus Mulyanto, M.Pd

Kategori
Buku Referensi

ISBN
Dalam proses

e-ISBN
Dalam Proses

Ukuran
14 x 20 cm

Halaman
vi + 165 hlm

Tahun Terbit
Juni 2026

Harga
Rp 175.000,-

Sinopsis
Sentuhan sering kali dianggap sebagai hal yang sederhana, bahkan terabaikan dalam diskusi akademis maupun praktik sehari-hari. Padahal, sentuhan merupakan medium komunikasi paling purba, fondasi perkembangan kognitif-emosional, sekaligus perekat relasi sosial yang tidak tergantikan. Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi yang cenderung mendehumanisasi interaksi, pengalaman sentuhan justru mengalami marginalisasi. Buku ini lahir dari kegelisahan akademis sekaligus panggilan moral untuk mengembalikan makna sentuhan ke dalam khazanah keilmuan dan praktik pendidikan yang lebih humanis, etis, dan berbasis bukti empiris. Melalui pendekatan multidisipliner, buku ini mengupas sentuhan tidak sekadar sebagai kontak fisik, melainkan sebagai fenomena yang menjembatani dimensi biologis, psikologis, sosial, budaya, linguistik, dan pedagogis. Pembahasan dimulai dari akar filosofis dan mekanisme neurosains yang mendasari pengalaman taktil, dilanjutkan dengan eksplorasi makna sentuhan dalam komunikasi nonverbal (haptics), konstruksi linguistik melalui metafora, hingga variasi norma lintas budaya dan ritual. Bagian tengah buku secara khusus menyoroti peran sentuhan dalam perkembangan kognitif, regulasi emosi, pembentukan karakter, serta fungsinya sebagai tactile cue dalam proses pembelajaran dan konsolidasi memori. Tidak ketinggalan, dimensi etika, batasan profesional, mitigasi risiko, serta tantangan di era teknologi haptik dan immersive learning dibahas secara komprehensif agar sentuhan dapat diimplementasikan secara aman, bermakna, dan selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Lebih jauh, sentuhan memiliki sifat yang unik dibandingkan dengan modalitas sensorik lainnya, karena ia bersifat timbal balik dan refleksif. Dalam pengalaman menyentuh, manusia sekaligus menjadi yang menyentuh dan yang disentuh. Relasi ini menempatkan sentuhan sebagai pengalaman yang melampaui dikotomi subjek-objek. Dalam konteks ini, sentuhan dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi primordial yang tidak membutuhkan simbol, tetapi langsung menghadirkan makna melalui pengalaman tubuh. Sebagai ilustrasi, pelukan antara dua individu tidak memerlukan penjelasan verbal untuk dipahami sebagai ekspresi kasih sayang; makna tersebut hadir secara langsung dalam pengalaman sentuhan itu sendiri. Namun demikian, dalam perkembangan masyarakat modern yang semakin terediasi oleh teknologi dan komunikasi digital, pengalaman sentuhan justru mengalami reduksi. Interaksi manusia semakin banyak berlangsung melalui layar, sehingga dimensi haptik dalam komunikasi menjadi terpinggirkan. Kondisi ini memunculkan paradoks: di satu sisi manusia semakin terhubung secara virtual, tetapi di sisi lain mengalami kekurangan pengalaman sentuhan yang autentik. Fenomena ini bahkan melahirkan istilah touch deprivation atau deprivasi sentuhan, yang merujuk pada kondisi kurangnya kontak fisik yang berdampak pada kesejahteraan psikologis individu

Skills

Posted on

June 19, 2026

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *